Tampilkan postingan dengan label Mix method. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mix method. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2016

8 Beda Pendidikan Di Indonesia Dan Finlandia

Perbedaan Pendidikan yang ada di indonesia itu dengan diluar negeri sangat jauh berbeda. Ketika kamu sekolah dulu yang dibilang pintar itu pasti yang dapat rangking minimal rangking tiga, dengan demikian jika kamu dapat nilai belakang tentu kamu tidak bakal ada dibilang pintar.
Berbeda dengan pendidikan terbaik di dunia dan muridnya juga terpintar justru melakukan hal yang berbeda.
  1. Kita harus menghadapi ujian nasional ditiap tingkat pendidikan sementara Finlandia hanya 1 kali seumur hidup yaitu ketika berumur 16 tahun.
  2. Di Indonesia Umur 5 atau 6 tahun sudah boleh masuk SD sementara Di Finlandia, Anak-Anak Baru Boleh Masuk sekolah Setelah usia mereka 7 Tahun.
  3. Cara Belajar Di Indonesia 140 Menit Belajar 15-20 menit istirahat, Belajar Cara Finlandia: 45 Menit Belajar, 15 Menit Istirahat, begitu seterusnya karena menurut penelitian mereka bahwa otak hanya mampu menyerap informasi dengan baik selama 45 menit dan butuh istirahat.
  4. SD_SMP Negeri di Indonesia Gratis spp tapi banyak pungutan ini dan itunya dan Sekolah swasta wajib bayar spp dan lainnya bahkan memakan biaya yang cukup mahal, sedangkan Finlandia Semua Sekolah Negeri di Finlandia Bebas Dari Biaya untuk semua tingkat, Sekolah Swasta Pun Diatur Secara Ketat Agar Tetap Terjangkau.
  5. Peras keringat banting tulang untuk mendapatkan ilmu dan gelar di indonesia setelah tamat jika masih honor digaji serendahnya sementara dikasih beban sama dengan yang sudah PNS bahkan lebih, sedangkan di finlandia Semua Guru Dibiayai Pemerintah Untuk Meraih Gelar sampai ketingkat Master. Gaji Mereka Juga Termasuk Dalam Jajaran Pendapatan Paling Tinggi di Finlandia.
  6. Di indonesia fatokan kelulusan untuk naik ketingakt sekolah yang lebih tinggi adalah ujian nasional, sehingga waktu belajar SD selama 6 tahun atau 3 tahun smp/sma nasibnya di tentukan oleh ketegangan waktu ujian nasional 3 hari saja, Sementara di finlandia Guru Dianggap Paling Tahu Bagaimana Cara Mengevaluasi Murid-Muridnya. oleh Karena Itu, Ujian Nasional Tidaklah Perlu.
  7. Di indonesia belajar padat dengan puluhan mata pelajaran ditambah lagi dengan les sore bahakan sampai malam, sehingga menguras kerja otak sang anak, sementara di Finlandia Siswa SD-SMP Cuma Sekolah 4-5 Jam/hari. Buat Siswa SMP dan SMA, Sistem Pendidikan Mereka Sudah Seperti di Bangku Kuliah.
  8. Di indonesia tingkat kepintaran siswa hanya di ukur dari nilai dan rangking, sedangkan difinlandia tidak Ada Sistem Ranking di Sekolah. Finlandia Percaya Bahwa Semua Murid Itu Seharusnya Ranking 1. Oleh: admin CS

Sabtu, 21 Desember 2013

Fungsi Teori dalam Penelitian

Sebagaimana diketahui menurut filsafat ilmu pengetahuan, dikenal ada dua aliran pemikiran besar atau paradigma ilmu dalam memandang persoalan, yakni paradigma positivistik yang bersumber atau dipengaruhi oleh cara pandang ilmu alam yang bersandar pada hal-hal yang bersifat empirik, dan menjadi dasar metode penelitian kuantitatif, dan paradigma interpretif yang berakar dari cara pandang ilmu sosial yang lebih bersifat holistik dalam memandang persoalan, dan menjadi dasar metode penelitian kualitatif. Masing-masing metode tersebut berbeda sangat tajam dalam memandang persoalan yang diangkat menjadi masalah penelitian, mulai dari tujuan penelitian, desain penelitian, proses penelitian, bentuk pertanyaan penelitian, metode perolehan data, mengukur keabsahan data, analisis data hingga makna dan fungsi teori. Berikut uraian ringkasnya.
Dalam metode penelitian kuantitatif, teori berfungsi sebagai dasar penelitian untuk diuji. Oleh karena itu, sebelum mulai kegiatan pengumpulan data, peneliti menjelaskan teori secara komprehensif. Uraian mengenai teori ini dipaparkan dengan jelas dan rinci pada desain penelitian. Teori menjadi kerangka kerja (framework) untuk keseluruhan proses penelitian, mulai bentuk dan rumusan pertanyaan atau hipotesis hingga prosedur pengumpulan data. Peneliti menguji atau memverifikasi teori dengan cara menjawab hipotesis atau pertanyaan penelitian yang diperoleh dari teori. Hipotesis atau pertanyaan penelitian tersebut mengandung variabel untuk ditentukan  jawabannya. Karena itu, metode penelitian kuantitatif berangkat dari teori.
Sebaliknya, metode penelitian kualitatif berangkat dari lapangan dengan melihat fenomena atau gejala yang terjadi untuk selanjutnya menghasilkan atau mengembangkan teori. Jika dalam metode penelitian kuantitatif teori berwujud dalam bentuk hipotesis atau definisi sebagaimana dipaparkan pada halaman sebelumnya, maka dalam metode penelitian kualitatif teori berbentuk pola (pattern) atau generalisasi naturalistik (naturalistic generalization). Karena itu, pola dari suatu fenomena bisa dianggap sebagai sebuah teori.  Kalau begitu apa fungsi teori dalam metode penelitian kualitatif? Teori dipakai sebagai bahan pisau analisis untuk memahami persoalan yang diteliti.
Dengan teori, peneliti akan memperoleh inspirasi untuk bisa memaknai persoalan. Memang teori  bukan satu-satunya alat atau bahan untuk melihat persoalan yang diteliti. Pengalaman atau pengetahuan peneliti sebelumnya yang diperoleh lewat pembacaan literatur, mengikuti diskusi ilmiah, seminar atau konferensi, ceramah dan sebagainya bisa dipakai sebagai bahan tambahan untuk memahami persoalan secara lebih mendalam. Teori dipakai sebagai informasi pembanding atau tambahan untuk melihat gejala yang diteliti secara lebih utuh. Karena tujuan utama penelitian kualitatif adalah untuk memahami gejala atau persoalan tidak dalam konteks mencari penyebab atau akibat dari sebuah persoalan lewat variabel yang ada melainkan untuk memahami gejala secara komprehensif, maka berbagai informasi mengenai persoalan yang diteliti wajib diperoleh. Informasi dimaksud termasuk dari hasil-hasil penelitian sebelumnya mengenai persoalan yang sama atau mirip.
Misalnya, jika seorang mahasiswa program magister atau doktor bidang pendidikan ingin meneliti mengenai pola orangtua di masyarakat perkotaan dalam mendidik anak, maka informasi dari mana saja, lebih-lebih dari hasil penelitian sebelumnya yang mirip dengan tema tersebut, wajib dikumpulkan. Informasi itu tidak saja dipakai sebagai bahan perbandingan untuk memahami persoalan yang diteliti, tetapi juga untuk menegaskan bahwa peneliti tidak melakukan duplikasi atau replikasi dari penelitian sebelumnya. Sebab, baik duplikasi maupun replikasi keduanya dianggap tidak memberikan kontribusi apa-apa dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kegiatan penelitian memerlukan hal-hal yang baru (novelty) yang tentu tidak akan diperoleh dari duplikasi dan replikasi. Itu yang oleh para ahli sering disebut sebagai ‘state of the arts’ dalam penelitian yang meliputi siapa saja hingga yang paling terakhir meneliti apa, di mana (jika penelitian lapangan), apa masalahnya, metode apa yang dipakai, dan dengan hasil apa.  Untuk kepentingan praktis agar memudahkan pembaca melihat posisi peneliti pada deretan tema sejenis, state of the arts dibuat dalam bentuk tabel dengan komponen-komponen tersebut.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi peminat bidang metodologi penelitian, para peneliti, dan juga para mahasiswa yang akan atau sedang melakukan penelitian untuk skripsi, tesis atau disertasi. Secara khusus, saya berharap tulisan pendek ini dapat mengurangi kebingungan para mahasiswa mengenai posisi dan fungsi teori dalam penelitian sebagaimana selama ini terjadi.

Sumber: http://mudjiarahardjo.uin-malang.ac.id/materi-kuliah/285-fungsi-teori-dan-state-of-the-arts-dalam-penelitian.html

Jumat, 22 November 2013

Saran dan Rekomendasi

1. Apa perbedaan saran dan rekomendasi?
Saran tidak memiliki konsekuensi terhadap masa organisasi yang diteliti, sedangkan  rekomendasi memiliki implikasi bagi organisasi jika hal itu tidak dilakukan. Oleh karena itu, secara peringkat, rekomendasi lebih penting dibandingkan saran.
2. Berbagai macam variasi dalam bab penutup di laporan penelitian (skripsi, tesis, disertasi dll).
Dalam bagian penutup, ada yang berisi kesimpulan dan saran. Ada juga simpulan, implikasi, keterbatasn dan saran/rekomendasi dst. Hal ini sangat fleksibel menurut masing-masing saja.

Selasa, 05 November 2013

Binggung Cara Menganalisis Kuesioner

Pagi-pagi selepas subuh waktu Indonesia, saya membuka FB. Segera saya membaca chat dari seorang teman yang sedang mengammbil S2 di Jerman. "mas agussssssssssssssssssssssss,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, help me please,,,,,,,,,,,, ini angket musti diolah, musti diapain mas....?", begitu kata-katanya. Terkesan aneh ya, lha kan saat bikin proposal harusnya sudah punya rencana, hendak diapakan data yang didapatkan. Kemudian, saya pandu untuk meletakkan data/metodologi pada tempatnya.

Selasa, 16 April 2013

Beda Kuantitatif dan Kualitatif

Creswell (2008) menyebutkan perbedaan penggunaan kajian pustaka pada penelitian kuantitatif dan kualitatif. Pada penelitian kuantitatif, penggunaan kajian teori adalah bersifat substantif.
Akan tetapi memang ada perdebatan dalam hal ini. Untuk peneliti pemula, teori sangat penting karena untuk memandu mereka mengidentifikasi hasil penelitian. 
Perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel perbedaan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif sebagai berikut.



Differences
Quantitative
Qualitative
Amount of literature cited at the beginning of the study
Substantial
Minimal
Use literature at the beginning of the study
Justifies or documents the need for the study.
Provides a rationale for the direction of the study (i.e.purpose statement and research questions or hypotheses).
Justifies or documents the need for the study
Use or literature at the end of the study
Confirms or disconfirms prior predictions from the literature
Supports or modifies existing findings in the literature