Kamis, 28 Juli 2011

Analisis statistik inferensial


Analisis inferensial digunakan untuk penelitian sampel, dimana peneliti ingin membuat generalisasi dari penelitian yang digunakan. Statistik ini hanya mengolah data sampel hasil pengumpulan data. Karena hanya menganalisis sampel dan mengetahui populasinya maka teknik sampling menjadi penting untuk diperhatikan. Statistik inferensial ini mempunyai teknik yang lebih lengkap dibandingkan analisis deskriptif, misalnya teknik korelasi, komparasi, mencari pengaruh, efektifitas dll.
Proses pengujian hipotesis dengan statistik inferensial secara umum dapat digambarkan sebagai berikut;
Pada dasarnya pengujian hipotesis adalah menguji taraf signifikansi. Dengan menggunakan tabel kita akan mendapatkan bahwa semua hasil olahan statistika harus dibandingkan dengan nilai tabel. Setelah semua data dimasukkan dalam rumus – rumus statistika akan didapat nilai hitung. Dari tabel ini akan ditentukan apakah hipotesis diterima atau ditolak. Pada pelaksanaan uji nanti peneliti harus cermat dan hati – hati karena kaidah bandingan dengan tabel ini ada yang terbalik. Inilah yang disebut pengujian hipotesis secara konvensional.
Menginterpretasikan output komputer kita menguji hipotesis dengan tidak perlu membandingkannya dengan harga teoritis (tabel). Komputer akan melakukan pengujian Ho, apakah harus menolak Ho atau menerimanya. Statistik inferensial pada prinsipnya hanya menguji apakah Ho diterima atau seberapa besar hasil penelitian kita dapat digeneralisasikan. Menolak Ho berarti menerima Ha atau sebaliknya. Peneliti hanya melihat apakah nilai “sig.”  yang dikeluarkan oleh komputer. Selajutnya nilai sig ini diinterpretasikan dengan pedoman sebagai berikut(Sutrisno Hadi, 2000:112-115):
Tabel 1.  Mengambil keputusan dalam statistik inferensial
Nilai sig.
Kaidah Ho
Keputusan
< 0.01
<0.05
>0.05
Menolak Ho
Menolak Ho
Menerima Ho
Sangat signifikan
Signifikan
Tidak signifikan

Tabel 2. Teknik analisis statistika yang dapat dipilih dalam penelitian.
Macam – macam data
Bentuk Komparasi
Asosiatif
Dua sampel
k- sampel
Korelasi
Independen
Korelasi
Independen
Interval/
rasio
t-tes dua sampel
t-tes dua sampel
One way anova
One way anova
-product moment
-korelasi parsial
-korelasi ganda
-regresi sederhana &ganda
Ordinal
-sign tes
-wilcoxon
-Median tes
-mann-whitney
-kolmogorov smirnov
-friedman
-two way anova
-Media ekstention
-kruskal walls
-Spearman rank
-kendall tau
Nominal
Mc Nemar
-Fisher exact
-chi kuadrat for two sampel
Chi kuadrat for k-sampel
Chi kuadrat for k-sampel
-coefisien contingensi
Tabel 2. Menunjukkan apa saja teknik analisis yang dapat kita gunakan dalam penelitian.  Misal data yang kita dapatkan adalah data interval dan hipotesisnya adalah komparatif dua kelompok tidak berhubungan maka kita menggunakan uji-t independent sample. Jika dataya adalah datanya ordinal hipotesisnya komparatif k-kelompok yang independent kita gunakan kruskal walls, dls.
Interpretasi analisis hipotesis dengan output komputer secara prosedural adalah sebagai berikut (Sutrisno Hadi, 2000:117).;
Analisis korelatif,
a.      lihatlah harga statistik korelatif yang muncul dilayar, r=sekian/ R=sekian.
b.      Lihat nilai “sig.” yang dihasilkan komputer.
c.       Lihat kaidah pengambilan keputusan statistik seperti tabel 2 diatas kemudian ambillah keputusan.
d.      Lihat arah hubungannya, jika (+) maka dikatakan hubungannya linier artinya X naik maka Y juga naik. Jika (-) maka hubungannya terbalik, yakni jika X naik maka Y turun.
Analisis komparatif,
a.      Lihat hasil statistik hasil uji perbedaan yang muncul, t=sekian/ F=sekian.
b.      Lihat nilai “sig.” yang dihasilkan komputer.
c.       Lihat kaidah pengambilan keputusan statistik seperti tabel 1 di atas kemudian ambillah keputusan.
d.      Jika disimpulkan perbedaanya adalah signifikan maka perlu dilihat lagi perlakuan mana yang lebih efektif. Juga kelompok mana yang berbeda dibangingkan dengan kelompok lain (posthoc).

Sabtu, 02 Juli 2011

Pengujian Hipotesis


Pengujian Hipotesis Menggunakan Output SPSS

Proses pengujian hipotesis dengan statistik inferensial secara umum dapat digambarkan sebagai berikut;
Hipotesis yang akan diuji adalah H0. Pada dasarnya pengujian hipotesis adalah menguji taraf signifikansi. Dengan menggunakan tabel kita akan mendapatkan angka teoritis dari suatu distribusi, misalnya F, t,r. Secara konvensional semua hasil olahan statistika harus dibandingkan dengan nilai tabel. Setelah semua data dimasukkan dalam rumus–rumus statistika akan didapat nilai hitung. Dari tabel ini akan ditentukan apakah hipotesis diterima atau ditolak dengan kaidah yang berlaku. Pada pelaksanaan uji analisis nanti peneliti harus cermat dan hati–hati karena kaidah bandingan dengan tabel ini ada yang terbalik.
Maksud kaidah yang terbalik ini misalnya, untuk menguji asumsi penelitian, misalnya asumsi klasik, keputusan terkena atau tidaknya asumsi adalah jika H0 diterima tetapi jika melakukan uji hipotesis yang kita butuhkan adalah penerimaan Ha.
Menginterpretasikan output SPSS kita menguji hipotesis dengan tidak perlu membandingkannya dengan harga teoritis (tabel). Komputer akan melakukan pengujian H0 kemudian komputer akan melaporkan hasil apa adanya. Analis/penelitilah yang harus memutuskan apakah menerima atau menolak H0. Statistik inferensial pada prinsipnya hanya menguji apakah H0 diterima atau seberapa besar hasil penelitian kita dapat digeneralisasikan. Menerima H0 berarti menolak Ha atau sebaliknya.

Pedoman yang Digunakan untuk Menyimpulkan Hipotesis

Cara menyimpulkan apakah menerima atau menolak adalah dengan berpedoman pada berapa tingkat signifikansi yang dipatok peneliti, misalnya 5 atau 1%. Setelah menetapkan taraf signifikansi yang dikehendaki peneliti hanya melihat berapa nilai “sig.”  yang dikeluarkan oleh SPSS.  Nilai “sig.” terkadang sering disebut dengan p-value.
Misalkan peneliti telah menetapkan bahwa akan menggunakan taraf signifikansi 5%, yang diubah dalam bilangan desimal adalah 0,05. Kemudian peneliti melakukan analisis data menggunakan SPSS dan didapatkan nilai sig. 0,025. Untuk memutuskan hipotesis apakah menerima atau menolak H0 peneliti tinggal membandingkan nilai taraf signifikansi “sig.” yang didapatkan dengan hasil analisis SPSS. 0,05 > 0,025 oleh karenanya dapat diputuskan H0 ditolak dan  Ha diterima. Secara umum kaidah penerimaan hipotesis nol (H0) menggunakan SPSS adalah sebagai berikut:
·            Jika nilai sig < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima.
·            Jika nilai sig > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak.

Jumat, 01 Juli 2011

Pengukuran dalam penelitian kuantitatif


Pengukuran merupakan tahapan paling penting dalam penelitian kuantitatif. Alasannya adalah karena alat analisis kuantitatif tidak dapat membedakan data yang dimasukkan benar atau salah. Alat analisis kuantitatif adalah statistic yang mengenal prinsip “garbage in garbage out” atau masuk sampah keluar juga sampah, sehingga peneliti harus memastikan bahwa data yang dimasukkan adalah benar baik.
         Agar data yang didapatkan benar-benar baik maka dibutuhkan desain instrumen yang baik pula. Dalam menyusun instrumen dijabarkan dari definisi operasional sampai scoring yang akan diberikan untuk tiap jawaban. Scoring jawaban responden juga merupakan bagian tidak terpisahkan dari instrumen. Agar instrumen dapat mengukur dengan tepat maka dibutuhkan pengetahuan teknik dasar penyusunan instrumen, penguasaan definisi variable secara konseptual, pengetahuan keadaan lapangan dan diskusi dengan para ahli yang berkompeten.
Pembahasan akan dimulai dari mendefinisikan variable. Variable secara bahasa dapat dikatakan sebagai ubahan atau sesuatu yang dianggap dapat berubah. Variable dalam  pengertian metodologi penelitian adalah sifat, karakteristik, perilaku yang dapat diukur untuk dipelajari dengan metode ilmiah. Sering peneliti harus melakukan reduksi untuk mendapatkan pengertian sebuah variable.
          Pengukuran variable dimulai dari mendefinisikan variable dengan sejelas mungkin, proses ini dinamakan dengan definisi operasional. Definisi operasional tidak harus berdasarkan pada salah satu teori tertentu tetapi dapat dibentuk dari kompilasi dari teori yang ada. Definisi operasional akan berguna untuk membatasi penafsiran sidang pembaca sekaligus untuk menjabarkan variabel menjadi faktor/indikator. Tahapan selanjutnya adalah menentukan lagi penjelas dari faktor dimaksud.

Senin, 27 Juni 2011

Keunggulan Metode Kuantitatif


Metode kuantitatif merupakan metode yang lengkap dan menjadi andalan banyak peneliti. Ada pendapat yang menyatakan bahwa blok pendekatan penelitian dibagi menjadi Australia dan Amerika. Blok Australia lebih setuju menggunakan metode naturalistic dibandingkan dengan metode kuantitatif yang dianut Amerika. Metode kuantitatif menekankan pada pengujian teori-teori pengetahuan dan naturalistic menekankan pada penggalian informasi yang ada dengan latar aslinya.
Metode kuantitatif dapat melakukan beberapa tugas sesuai tuntutan peneliti, yakni melihat perbandingan, mengetahui hubungan, melihat kecenderungan, melakukan pengelompokkan maupun penyederhanaan variable. Untuk melakukan tugas tersebut diperlukan dua hal utama, pertama adalah alat ukur dan kedua adalah alat analisis. Alat analisis dapat diibaratkan sebagai sebuah pisau yang akan membentuk/mengukir sebuah benda untuk dapat dilihat hasilnya (kesimpulannya). Alat analisis yang dapat digunakan untuk memecahkan berbagai persoalan diantaranya;
Table 1. Kemampuan analisis kuantitatif
Tujuan pemecahan
Alat analisis kuantitatif
Melihat perbandingan
Analisis varian (Anova)
Mengetahui hubungan
Analisis korelasi, regresi
Mengetahui sebab kausal
Analisis jalur, Structural Equation- Model.
Melihat kecenderungan
Mean, median, modus, standar- deviasi, tabulasi silang, table.
Mengelompokkan/mereduksi- variable/Indikator
Analisis factor
Mengelompokkan -obyek/kasus
Analisis klaster
Pemetaan obyek/kasus
Analisis MDS, Klaster Kanonikal

Alasan menggunakan kuantitatif
Metode kuantitatif mempunyai keunggulan dari sisi efisiensi. Analisis kuantitatif bekerja menggunakan sample untuk memecahkan persoalan yang dihadapi.
Selain dari sisi sample, untuk hal-hal tertentu metode kuantitatif memberikan penjelasan yang lebih tepat terhadap fakta yang dihadapi. Bahkan pada penelitian tertentu memang harus menggunakan metode kuantitatif.
 Apapun latar belakang bidang studi Anda, dapat menggunakan metode kuantitatif dengan baik. Metode kuantitatif telah digunakan luas pada bidang ilmu yang ada, ilmu-ilmu teknik, ilmu-ilmu kesehatan, ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu social, ilmu-ilmu pendidikan dan psikologi.
Para ahli statistic biasanya berasal dari kelompok ilmu-ilmu social. Hal ini terkait dengan pesatnya perkembangan kuantifikasi ilmu social sampai saat ini. Ilmu sosial yang langsung berkaitan dengan ilmu perilaku manusia saat ini telah digunakan secara luas untuk mengamati dan memahami perilaku manusia di tempat kerja dimana penelitian berlangsung.

Sabtu, 25 Juni 2011

Sejarah metode kuantitatif


Metode kuantitatif berkembang pertama kali sebagai metode ilmiah. Metode ilmiah pertama kali dikembangkan oleh para manajer di Eropa. Metode ini antara lain adalah metode time and motion study oleh Frederick Taylor pertama kali sekitar tahun 1930-an. Metode ini mempelajari keefisienan dalam proses produksi perusahaan. Metode ini berkembang menjadi penelitian operasional yang menjadi salah satu bidang kajian ilmu manajemen. Saat ini penelitian operasional sudah berkembang pesat mulai dari perencanaan produksi sampai pelaksanaan. Misalnya teori tentang linear programming, teknik forecasting, teori permainan, teori simulasi, teori antrian dansebagainya.
Metode kuantitatif kemudian berkembang dalam ilmu psikologi. Dalam ilmu psikologi berkembang percobaan-percobaan tentang perilaku manusia.  Ditemukan juga rumus anova. Selain itu juga berkembang analisis regresi yang dikembangkan sosiolog. Metode yang terakhir adalah metode ekonometrik yang berkembang tahun 1970-an. Sampai saat inipun alat analisis statistic masih terus berkembang dan dipelajari.
Metode kuantitatif berkembang pesat sejak ditemukannya berbagai alat ukur penelitian. Alat ukur pertama kali hanya dikenal pada benda-benda fisik seperti ukuran berat (kg, ons, pon, gram dll) ukuran jarak/tinggi (km, m, cm, inchi, mm dll) maupun ukuran panas (Celcius, Fahrenheit dll). Sekarang ini telah berkembang berbagai bentuk pengukuran bidang ilmu social yang mendasari kuantifikasi ilmu-ilmu social. Alat ukur yang dapat dijadikan parameter tersebut antara lain adalah pengukuran sikap menggunakan skala Likert; pengukuran indicator ekonomi menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB), Pendapatan Perkapita (GNP), laju inflasi, nilai tukar mata uang. masih banyak pengukuran bidang ilmu social lain yang sudah tersedia sekarang ini.
       Jalan menuju metode kuantitatif semakin mudah karena Peneliti jaman sekarang tidak perlu kesulitan untuk melakukan penganalisisan data hasil penelitian. Sejak tahun 1980-an telah berkembang software yang memungkinkan peneliti melakukan analisis data kuantitatif secara cepat dan tepat. Pada fase ini perkembangan analisis data menjadi pesat dengan ditemukannya teknik statistic multivariate. Penelitian dengan aplikasi multivariate apalagi melibatkan banyak responden akan sangat terbantu dengan software computer. Untuk melakukan analisis data statistic hanya dibutuhkan waktu kurang dari 5 menit dengan software statistic seperti SPS, SPSS, Minitab, Amos, POM, Lisrel maupun software lain yang kurang popular.