| Judul | Rumusan masalah | Hipotesis | Jenis data | Teknik analisis | Kaidah | Contoh kesimpulan |
| Peranan kepemimpinan kepala sekolah dalam mendukung progesionalisme guru | Apakah kepemimpinan kepala sekolah mampu berpengaruh pada profesionalisme guru ? | Ada pengaruh signifikan kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh pada profesionalisme guru | Interval (skala Likert) | Regresi sederhana | Jika nilai Fhitung >Ftabel maka disimpulkan terdapat pengaruh signifikan. | Ada pengaruh signifikan kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh pada profesionalisme guru |
| Orientasi pengambilan pendidikan profesi mahasiswa | Bagaimana motivasi mahasiswa untuk mengambil pendidikan profesi? | Mahasiswa tingkat awal dan akhir mempunyai perbedaan motivasi mengambil pendidikan profesi | Interval (skala Likert) | Uji t independent sample (sampel bebas) | Jika nilai thitung >ttabel maka disimpulkan terdapat perbedaan signifikan. | Mahasiswa tingkat awal dan akhir mempunyai perbedaan motivasi mengambil pendidikan profesi |
| Hubungan lingkungan belajar dengan prestasi belajar | Apakah lingkungan belajar mempunyai korelasi dengan prestasi belajar | Lingkungan belajar berkorelasi positif dengan prestasi belajar | Interval (skala Likert) | Korelasi Pearson Product Moment | Jika nilai rhitung >rtabel maka disimpulkan ada korelasi signifikan. | Ada korelasi yang signifikan antara lingkungan belajar dengan prestasi belajar |
| | | | | | | |
| Analisis Strategi Segmentasi Perbankan Syariah (Studi Kasus Bank Syariah Mandiri, Cabang Yogyakarta) | Segmen apa saja yang potensial ditinjau dari persepsi konsumen terhadap sejumlah manfaat (benefit) | Berdasarkan identitas responden mempunyai perbedaan benefits yang ditawarkan | Nominal (identitas) dan interval (benefits) | Crosstab dan one way anova | Jika nilai χ2 hit > χ2 tab pengaruh sign&Jika nilai Fhitung >Ftabel pengh signfikn | Segmen yang paling potensial adalah mahasiswa dilihat dari benefits yang ditawarkan |
= Yogyakarta dan Global On line = Jasa Olahdata Statistik (Skripsi-Tesis-Disertasi-Penelitian-dll) berbagai software; SPSS, AMOS, LISREL, Smart PLS, SEM, E-VIEWS, SAS, Stata, Minitab, R, SPS, Excel, QM, QS, Konsultasi Skripsi, Konsultasi Tesis, Analisis Statistika, Interpretasi, dll.
Sabtu, 08 Oktober 2011
Beberapa Alternatif Judul Penelitian
Jumat, 23 September 2011
Membuat Karya Tulis
Sumber Pembuatan
Untuk membuat karya tulis ilmiah yang baik kita perlu persiapkan materi apa yang hendak ditulis. Materi yang ditulis sebaiknya berasal dari aktifitas ilmiah yang telah selesai dilakukan. Dengan kata lain sebenarnya karya tulis ilmiah adalah hasil suntingan dari laporan yang telah ada. Laporan ilmiah ini dapat berupa:
§ Hasil penelitian (baik yang dilakukan sendiri maupun penelitian orang lain dengan seijin yang punya).
§ Hasil kerja praktek di lapangan.
§ Hasil praktikum atau pengamatan di laboratorium.
§ Kritik karya tulis ilmiah yang dipublikasikan orang lain.
§ Konsep pemikiran berdasarkan teori tertentu.
Sistematika karya tulis ilmiah dapat berbeda sesuai dengan instansi yang mengadakan lomba/menerima karya tulis ilmiah. Tetapi meskipun terdapat perbedaan sistematika, namun esensi yang dikandungnya adalah sama. Persyaratan untuk memasukkan tulisan pada sebuah jurnal biasanya dilampirkan pada halaman terakhir jurnal yang dimaksud. Hal tersebut memudahkan penulis untuk menyesuaikan dengan format penulisan.
Standar karya tulis ilmiah untuk mahasiswa sudah dibuat oleh Depdiknas. Sistematika karya tulis ilmiah menurut Direktur Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Dikti, diistilahkan dengan Program Kreatifitas Mahasiswa Ilmiah (PKMI/penulisan ilmiah), sebagai berikut;
§ Cover dan lembar pengesahan
§ Naskah yang diawali dengan judul, nama penulis, abstrak dan kata kunci.
§ Jumlah kata dalam abstrak adalah 250 – 300 kata. Jumlah kata kunci istilah 4 – 5 istilah. Abstrak dibuat tiga alinea, alinea pertama berisi latar belakang dan tujuan tulisan, alinea kedua berisi metode penulisan yang dikerjakan, alinea ketiga berisi hasil tulisan dan diskusi.
§ Batang tubuh tulisan;
a. Pendahuluan (Latar Belakang, tujuan, tinjauan pustaka)
-Latar belakang memuat penjabaran tentang permasalahan yang akan ditulis. Masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang dapat dilihat oleh penulis.
-Tujuan penulisan memuat apa yang ingin penulis kemukakan dalam karya ilmiah yang dibuat ini.
-Tinjauan pustaka memuat penegasan istilah istilah, penjelasan konsep – konsep, penjelasan tentang materi yang sama menurut pustaka, hasil - hasil penelitian yang relevan, dan hasil penelitian lain.
b. Metode pendekatan (Metode penelitian, pendekatan teoritik, rancangan percobaan, rencana praktik industri, magang dll.)
-Metode Pendekatan berisi cara melakukan penelitian, asumsi yang mendasari, alasan menggunakan metode tersebut, bagaimana metode itu dijalankan. Bagian ini juga berisi garis besar tentang isi makalah/pembahasan.
c. Hasil dan Pembahasan
Sumber data untuk mengemukakan jawaban tujuan pertanyaan karya kita, dapat berasal dari:
· laporan atau hasil penelitian sendiri/oranglain
· hasil praktikum yang telah dilaksanakan
· buku – buku referensi yang telah baku
-Hasil mengemukakan tentang data – data dan ikhtisar tentang permasalahan yangberhubungan dengan tujuan penulisan kita.
-Pembahasan diungkapkan dengan cara:
· menyajikan asas, hubungan, perbedaan, generalisasi yang ditunjukkan data.
· Menunjukkan pengecualian atau keterikatan hasil
· Menunjukkan bagaimana hasil – hasil itu dan tafsirannya yang diperoleh sesuai dengan sumber data
· Penjelasan implikasi teoritis yang mungkin dari kerja yang telah dilakukan, kemungkinan penerapan praktisnya.
· Untuk membuat lebih menarik dan meyakinkan pembaca sajikan tabel, diagram, grafik dll.
d. Kesimpulan dan Saran
Sajikan kesimpulan sesuai dengan bahasan yang telah dilakukan, jangan memberi kesimpulan yang tidak berdasar pada pembahasan. Saran harus diberikan secara jelas dan operasional. Jika diperlukan saran dapat langsung “tunjuk hidung”.
e. Daftar pustaka adalah referensi yang telah kita pakai.
Sistematika diatas belum termasuk persyaratan penulisan, tata letak tulisan, penomoran, pengutipan, penulisan daftar pustaka dll. Ini akan kita dapatkan di pedoman PKMI.
Teknik Penyuntingan
Penyuntingan dapat dimaknai sebagai menuliskan kembali hasil-hasil yang telah didapatkan dari hasil penelitian/penyelidikan. Penulisan kembali ini tentu berbeda dengan teknik menulis laporan penelitian/penyelidikan. Perbedaan itu terletak setidaknya pada sistematika maupun gaya bahasa. Tentang sistematika telah kita bahas pada subbab C sehingga tidak perlu lagi dibahas.
Gaya bahasa dalam karya tulis ilmiah lebih fleksibel. Bahasa baku digunakan lebih fleksibel dan tidak kaku. Penulis dapat memasukkan unsur argumentatif maupun eksposisi tanpa kehilangan obyektifitas. Hal ini berbeda dengan gaya bahasa ilmiah baku yang tegas, kaku, detail dan terstandarisasi.
Ketrampilan membuat karya tulis akan dapat berkembang dengan baik jika kita mau sering berlatih. Cara berfikir kritis analitis dapat dikembangkan jika Anda semakin banyak menulis, terutama karya tulis ilmiah populer. Dalam karya tulis populer Anda tidak perlu melakukan penelitian/penyelidikan tetapi Anda dapat menuliskan refleksi pengamatan sehari-hari, penerungan terhadap suatu masalah maupun konsep untuk memecahkan masalah.
Agar tetap termotivasi ada baiknya membentuk kelompok diskusi yang mempunyai minat yang sama. Disana sharing ide dan kesulitan penulisan akan semakin memantapkan pemahaman akan karya tulis ilmiah. Motivasi untuk menulis merupakan salah satu kunci keberhasilan menulis. Jika Anda tidak mempunyai motivasi yang tinggi untuk menulis Anda akan kesulitan untuk memulai.
Selamat mencoba!
Minggu, 18 September 2011
Karya Tulis
A. Pendahuluan
Karya
tulis sebenarnya bukan merupakan hal yang sangat sulit dan rumit. Ada yang
menyebut karya tulis ilmiah sebagai artikel ilmiah. Demi terjadinya persamaan persepsi dalam
tulisan ini akan digunakan istilah karya tulis ilmiah. Budaya lisan lebih
berakar pada masyarakat kita sehingga seakan sulit untuk memulainya. Dengan
latihan yang teratur dan diskusi dengan yang lebih paham, persoalan ini pasti
akan berakhir.
Karya
tulis, apapun bentuknya, merupakan hal yang perlu terus dikembangkan dalam
budaya kampus. Banyak hal yang dapat dikembangkan jika mahasiswa mampu menyusun
karya tulis. Akhir-akhir ini iklim untuk menulis di kampus tampak
menggembirakan. Berbagai media yang menampung karya tulis mahasiswa dimunculkan
oleh hampir semua organisasi kemahasiswaan dari tingkat Jurusan sampai level
Universitas. Sedangkan karya tulis ilmiah banyak kita jumpai pada jurnal –
jurnal ilmiah. Dalam lingkup pendidikan kita mengenal ada Jurnal Ilmu Pendidikan
(UM), Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang Diknas), Jurnal Pendidikan Teknologi
dan Kejuruan (UNY) dll. Jurnal-jurnal tersebut masih ditulis oleh dosen dan
dikeluarkan oleh lembaga penelitian kampus yang bersangkutan. Jurnal yang
ditulis dan diterbitkan oleh mahasiswa nyaris tidak terdengar.
Pada
dasarnya memang karya tulis ilmiah tidak dapat dilepaskan dari aktivitas
penelitian. Aktivitas penelitian saat ini sama terpuruknya dengan karya tulis
ilmiah sehingga karya tulis ilmiah terkubur bersama.
B. Macam karya tulis
Karya
tulis dapat didefinisikan sebagai semua karya yang berbentuk tulisan (teks).
Karya tulis tersebar diberbagai media baik media cetak
(koran,majalah,buletin,tabloid,buku,) maupun elektronik (web, CD ensiklopedi,
dls). Sekedar untuk membedakan beberapa macam karya tulis, berikut diberikan
beberapa contoh bentuk karya tulis yang telah dikenal luas.
§ Fiksi
merupakan karya tulis yang berbentuk cerita rekaan. Tulisan bentuk ini biasanya
ditampilkan di media massa terutama majalah. Belakangan muncul fiksi ilmiah
yang merupakan karya tulis yang bersumber dari
logika ilmu pengetahuan.
§ Narasi
adalah
karya tulis yang berusaha menggambarkan atau penceritaan kembali suatu kejadian
atau konsep tertentu. Gaya narasi ini banyak digunakan pada journalism report.
§ Karya
tulis populer bentuk karya tulis ini lebih variatif dan berdasarkan pada fakta
di lapangan. Karya tulis ini biasanya ditulis oleh seorang praktisi yang
sehari-hari bekerja pada bidang yang ditulisnya. Bentuk karya tulis dapat
berupa naratif, kritis-analitis maupun argumentatif. Karena bersumber dari
seorang praktisi biasanya kolom ini dinamakan dengan wacana, opini, analisis.
§ Karya
tulis ilmiah merupakan penelitian yang telah sederhanakan untuk dibuat
publikasi di media-media ilmiah.
Rabu, 31 Agustus 2011
Selamat Lebaran
All crew "Grha Statistika Yogyakarta" mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432H,
Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Semoga kita selalu dapat meningkatkan amal ibadah kita, fastabiqul khairat, Amiiiiennn
Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Semoga kita selalu dapat meningkatkan amal ibadah kita, fastabiqul khairat, Amiiiiennn
Minggu, 28 Agustus 2011
Membuat Instrumen Kuesioner
A. Pengertian variable dan pengukurannya
Variable secara bahasa dapat dikatakan sebagai ubahan atau sesuatu yang dianggap dapat berubah. Variable dalam pengertian metodologi penelitian adalah sifat, karakteristik, perilaku yang dapat diukur untuk dipelajari dengan metode ilmiah. Sering peneliti harus melakukan reduksi untuk mendapatkan pengertian sebuah variable.
Pengukuran variable dimulai dari mendefinisikan variable dengan sejelas mungkin, proses ini dinamakan dengan definisi operasional. Definisi operasional tidak harus berdasarkan pada salah satu teori tertentu tetapi dapat dibentuk dari kompilasi dari teori yang ada. Definisi operasional akan berguna untuk membatasi penafsiran sidang pembaca sekaligus untuk menjabarkan variabel menjadi faktor/indikator. Tahapan selanjutnya adalah menentukan lagi penjelas dari faktor dimaksud. Bentuk umumnya adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Tahapan membuat instrumen berdasarkan definisi operasional yang dibuat.
Variabel
|
Faktor/indikator
|
Penjelas
|
Butir/item
|
Pengukuran variabel disesuaikan dengan karakteristik variabel yang hendak diukur. Alat ukur yang dimaksud dapat berbentuk alat ukur untuk ilmu pasti yang sudah banyak disepakati seperti timbangan untuk mengukur berat, meteran atau milimeter skrup untuk mengukur satuan jarak/tinggi, termometer untuk mengukur suhu, pH meter untuk mengukur derajat keasaman dan lain sebagainya. Dengan alat-alat tersebut variabel yang hendak diukur dapat diketahui besar perubahannya. Pada instrumen pengukuran bidang ini relatif tidak terjadi perbedatan ketepatan hasil pengukuran dari alat ukur.
Untuk instrumen dalam bidang sosial, alat ukur yang ada belum disepakatati sepenuhnya oleh peneliti. Hal ini dikarenakan karakteristik yang unik di setiap sampel yang hendak diambil oleh para penelit di bidang tertentu. Alat ukur yang biasa digunakan oleh para peneliti bidang sosial adalah angket, skala psikologi, obervasi dan analisis dokumen.
B. Menyusun instrumen kuesioner
Meskipun belum sepenuhnya disepakati oleh para peneliti namun ada beberapa peneliti yang dalam melakukan penelitiannya menggunakan instrumen yang disusun peneliti lain. Instrumen seorang peneliti dapat dipakai oleh dengan catatan variabel yang hendak diukur harus sama, instrumen perlu adaptasikan kondisi/setting antara responden yang lalu dengan penelitian yang hendak dilakukan, terakhir perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas lagi.
1. Angket
Selama ini kita hanya mengenal angket sebagai instrumen bidang sosial. Sebenarnya ada instrumen lain yang dapat digunakan oleh peneliti lebih mudah. Instrumen yang dapat digunakan adalah skala psikologi. Skala psikologi berbeda dengan angket, perbedaan itu terletak pada variabel yang hendak diukur. Angket mengukur data faktual yang ada pada subyek sedangkan skala psikologi mengukur konstruk/konsep psikologis yang telah disepakati definisinya. (Azwar, 2000:5-6)
Tahapan pengembangan alat ukur angket dapat dijalankan seperti tabel 2. Pekerjaan pertama seperti pada tabel 2 adalah memastikan nama variabel yang hendak diukur kemudian menurunkan menjadi indikator. Dalam satu variabel dapat terdiri dari beberapa indikator sesuai dengan kerangka konstruksinya. Indikator yang telah terbentuk perlu bagi lagi menjadi penjelas yang kemudian proses akhir adalah menyusun nomor item dalah angket. Nomor item tidak harus urut untuk tiap indikator.
Tabel 2. Tahapan membuat instrumen berdasarkan definisi operasional yang dibuat.
Variabel
|
Indikator
|
Penjelas
|
Nomor item
|
Kepemimpinan transformasional
|
Kharisma
|
Memberi contoh
Kepercayaan pd pmmpn
|
1,2,3,4,5,6,7,8,9,
10,11,12,13,14,15
|
Pertimbangan individu
|
Batasan individu
|
16,17,18,19,20,21
| |
Stimulasi intelektual
|
Memberikan feedback
Memberikan tanggungjawab
|
22,23,24,25,26,27
28,29,30
| |
Motivasi yang menimbulkan inspirasi
|
Mengkomunikasikan tujuan
Mendayagunakan sumber daya
Memberdayakan bawahan
|
31,32,33,34,35,36,37,38,39.
|
Instrumen kepemimpinan transformasional kepala sekolah mengukur persepsi dan penilaian guru terhadap kepemimpinan transformasional kepala sekolah. Pengukuran persepsi dan penilaian kepemimpinan kepala sekolah ini dilihat dari indikator; charisma, pertimbangan individu, stimulasi intelektual dan motivasi yang menimbulkan inspirasi. Instrumen ini menggunakan skala Likert dengan lima pilihan jawaban; Sangat sering (SS), Sering (S), Kadang–kadang (K), Jarang (J) dan tidak pernah (T). Skoring jawaban diberikan (Agus Susanto, 2005);
SS diberi skor 5
S diberi skor 4
K diberi skor 3
K diberi skor 2
J diberi skor 1
2. Observasi
Observasi merupakan pengamatan terhadap subyek yang hendak diteliti. Untuk dapat menggunakan observasi diperlukan pedoman bagi kisi-kisi observasi. Kisi-kisi ini dapat digunakan dengan hasil penjabaran dari variabel.
Tabel 3. Kisi – Kisi Observasi
Aspek
|
Subyek
|
Tempat
|
Kondisi pembelajaran
|
Kepala sekolah, Guru dan siswa
|
-Ruang kelas
-Laboratorium
|
Aktivitas para guru
|
Guru dan siswa
|
-Ruang guru
-Ruang BK
|
Kisi observasi pada tabel 3 tidak memberikan penilaian pada subyek tetapi hanya memberikan diskripsi kenyataan. Contoh lain yang memberikan penilaian terhadap obyek seperti tabel 4:
Tabel 4. Kisi – Kisi Observasi dengan penilaian
No.
|
Nama/Jenis
|
Spesk
|
Jml
|
Tersedia
|
Kondisi
|
Skor/
kesimpulan
| ||
Baik
|
Rusak
| |||||||
Server
|
HardDisk
|
80 GB
|
1
|
1
|
√
|
Baik
| ||
Meja komputer
|
65 x 100
|
1
|
2
|
√
|
Baik
| |||
Printer
|
Laser jet
|
1
|
1
|
√
|
Kurang
| |||
Scanner
| ||||||||
RAM
|
SDRAM 256
|
1
|
1
|
√
|
Sedang
| |||
VgaCard
| ||||||||
SoundCard
| ||||||||
Speaker aktif
| ||||||||
Keyboard
| ||||||||
Mouse
| ||||||||
Kabel jaringan
/serat optik
| ||||||||
3. Analisis dokumen
Analisis dokumen merupakan teknik untuk mengetahui informasi yang ada dalam sebuah dokumen. Informasi dalam sebuah dokumen dapat dijadikan data utama maupun data pembanding. Sebagai contoh untuk penelitian konten maka data utama dapat didapatkan dari analisis dokumen. Contoh kisi-kisi instrumen ini:
Tabel 5. Kisi-kisi instrumen analisis konten
Variabel
|
Indikator
|
Jml resp
|
Benar
|
Salah
|
Kesalahan membuat laporan keuangan siswa
|
· Pencatatan transaksi
· Jurnal umum
· Neraca
· Laporan rugi/laba
· Laporan perubahan modal
|
30
30
30
30
30
|
Analisis dokumen sebagai instrumen pelengkap sebagai misal, untuk mengecek apakah pemimpin melakukan gaya transformasional maka akan diungkap bukti yang menunjukkan kepemimpinan transformasional yakni;
Tabel 6. Kisi-kisi instrumen analisis dokumen
Variabel
|
Indikator
|
Data yang dibutuhkan
|
Kepemimpinan transformasional
|
· Pernyataan visi dan misi
|
· Rencana jangka pendek, menenggah dan panjang
|
· Pendelegasian
|
· Struktur organisasi dan job description
| |
· Fasilitas pengembangan staf
|
· Pelatihan, seminar, in-house training, perpustakaan
|
Lokasi:
Klaten, Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)